Senin, 17 September 2012

UMBUL NOGO

     Umbul Nogo merupakan tempat wisata lokal yang terletak di Desa Karang Lor, Kecamatan manyaran. Kono critanya begini : terjadi peperangan antara hewan gajah dan ular naga (nogo), peperangan itu tidak ada yang menang atau kalah, kedua hewan itu sakti sehinga drow (sampyuh). ular naga itu menjadi patung di umbul nogo itu yg terletak di Desa Karang Lor, sedangkan gajah terlempar ke gunung sebelah timur, sehingga gunung itu dinamakan Gunung Gajah Mungkur. Umbul nogo berarti umbul mata air besar sedangkan nogo itu ular naga, mata air itu keluar dari patung naga, tapi sayang patung naga yang asli dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab hingga sampai sekarang tidak ditemukan lagi, namun sekarang untuk melestarikan itu di ganti dengan patung mitasi. Banyak sekali pohon-pohon besar yang tumbuh sehinga sangat rimbun dan sejuk, dan terdapat juga kolam renang dan tempat pemancingan. Pada saat hari libur apa lagi saat libur lebaran sangat ramai pengunjung karena tempat ini memang sangat bagus diantaranya wisatawan lokal dan domestik. Air yang berlimpah dimanfaatkan sebagai PDAM, irigasi persawahan dan perikanan warga sekitar sehingga dapat meningkatkan perekonomian warga sekitarnya.

NJEMPLO INDAH

Njemplo indah terletak di Desa BLABAK kelurahan Pagutan Kecamatan manyaran,..merupakan daerah tandus yang terdiri dari batu - batu besar. Konon katanya merupakan peningalan zaman megalitikum yaitu zaman batu....karena merupakan bukit yang berisi batu-batu besar. Tetapi sampai saat ini belum pernah ditemukan fosil-fosil manusia purba???? Luas dari bukit Njemplo itu kurang lebih 1ha, batu-batu itu merupakan batuan kapur yang keras dengan ukuran 6m3-10m3 anehnya batuan itu banyak berbentuk seperti binatang, ada yang berbentuk kodok istilah Jawanya Watu Kodok, berbentuk ayam, badak, lumba-lumba dan ada yang berbentuk menyerupai Heli.
     Njemplo indah merupakan tempat bermain anak - anak di Desa sekitarnya, salah satunya tembak-tembakan. Tembak-tembakan ini da yang terbuat dari bambu Petung dengan peluru kertas di celupkan air atau buah duet (biji anggur jawa) istilah kerennya dor-doran. Tembak ada yang terbuat dari kayu di bentuk seperti tembak dengan pelontar karet penti dengan amunisi buah tanaman kangkung yang dijepit bersama karet pentil.
Selain itu Njemplo indah dekat sekali dengan SD N I  Pagutan dan tempat itu merupakan areal bermain murid SD, bahkan digunakan untuk pesta kebun saat kenaikan kelas. Pesta kebun yaitu pesta Swadaya alias pesta makanan bawa sendiri he he he he.....aneka macam menu yang dibawa siswa antara lain nasi rames,nasi telur sambel goren, ketan/jadah dengan abon srundeng. Selain itu Njemplo indah banyak ditumbuhi rumput ilalang dan tanaman peper asu (jawa red) sehingga digunakan untuk membuat gua sebagai markas2 area anak-anak bermain..
     Seiring perubahan zaman karena pengaruh era golek duitisasi Njemplo Indah di Exploitas. Dari badan Pertambangan Nasional di duga di Njemplo indah terkandung minyak bumi.....????? Ternyata setelah didatangkan peralatan cangih dari negeri Jepang yaitu Big Hoe (Begok jawa red...) ternyata tidak mengandung unsur minyak bumi tetapi mengandung batuan yang dapat digunakan untuk hiasan rumah, tegel, dan batu alam....Sayang sekali sekarang sudah rata dengan tanah tingal kenangan.
Untuk menangulangi kerusakan lingkungan sekarang di tanami pohon jati..ya semoga dengan itu setidaknya keanekaragaman flora fauna semakin lestari...........

Jumat, 14 September 2012

Waduk Gajah Mungkur Wonogiri

Waduk Gajah Mungkur merupakan tempat yang terletak di Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah. Pembangunan dimulai pada tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk Gajah Mungkur dengan luas kurang lebih 8800 ha di 7 Kecamatan dengan membendung sungai Bengawan Solo. Waduk ini sangat bermanfaat untuk pengairan sawah di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen dan juga di gunakan untuk PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) menghasilkan 12,4 MegaWatt. Untuk membangun waduk ini pemerintah memindahkan penduduk yang tergusur perairan waduk dengan transmigrasi bedol desa ke Sitiung, wilayah Provinsi Sumatera Barat.
Waduk Gajah Mungkur juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah. Di sini tersedia kapal boat untuk mengelilingi perairan, juga sebagai tempat memancing. Selain itu dapat pula menikmati olah raga layang gantung (Gantole). Terdapat juga taman rekreasi "Sendang" yang terletak 6 km arah selatan Kota Wonogiri. Pada musim kemarau, debit air waduk akan kecil dan sebagian dari dasar waduk kelihatan. Dasar waduk yang di pinggiran dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk menanami tanaman semusim, seperti jagung.
     selalu menjadi tempat favorit untuk wisatawan lokal maupun luar wilayah Kabupaten Wonogiri. Terutama saat hari libur nasional maupun libur anak sekolah. Salah satunya saat libur Lebaran yang membuat WGM selalu ramai pengunjung. Kesempatan itu tak hanya menguntungkan pengelola kawasan wisata WGM, tetapi juga masyarakat di sekitar waduk. Mereka ada yang membuka warung makan dan menjual ikan goreng hasil tangkapan nelayan dan budidaya karamba waduk.
Waduk ini direncanakan bisa berumur sampai 100 tahun. Namun, sedimentasi yang terjadi menyebabkan umur waduk ini diperkirakan tidak akan lama. Perum Jasa Tirta Bengawan Solo kewalahan untuk melakukan perawatan terhadap Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri yang menjadi tugasnya. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) yang parah menyebabkan sedimentasi waduk sangat tinggi.[1]


Selasa, 11 September 2012

WONOGIRI

     Wonogiri berasal dari bahasa Jawa, Wono (hutan) dan Giri (pegunungan). Menggambarkan kondisi wilayah Wonogiri yang memang sebagian besar berupa sawah, hutan dan pegunungan. Menurut cerita Kabupaten Wonogiri tidak bisa terlepas dari perjalanan hidup dan perjuangan Raden Mas Said atau dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa. 

     Berawal dari dusun Nglaroh (wilayah kecamatan Selogiri), dimana Raden Mas Said menggunakan sebuah batu yang dikemudian hari disebut Watu Gilang untuk menyusun strateginya melawan ketidakadilan dan penjajahan. Disitulah Raden Mas Said membentuk perwira2 perang yang mumpuni berjuluk Punggowo Baku Kawandoso Joyo. Dengan dukungan penuh rakyat Nglaroh Raden Mas Said berhasil menumpas ketidakadilan pemerintahan pada saat itu yaitu Paku Buwono II dan sekaligus mengusir penjajah yaitu Belanda. Dari situlah awal mula suatu bentuk pemerintahan yang menjadi cikal bakal Kabupaten Wonogiri. Dimana akhirnya Raden Mas Said mampu menjadi penguasa wilayah itu dan diangkat menjadi Adipati Miji atau mandiri bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I.

     Raden Mas Said dalam perjuangannya mempunyai semboyan yang menjadi ikrar sehidup semati yaitu "Pamoring Kawulo Gusti" sebagai pengikat tali batin antara pemimpin dengan rakyatnya. Luluh dalam kata dan perbuatan, maju dalam derap yang serasi bagai keluarga besar yang sulit dicerai beraikan musuh. Ikrar itu berbunyi "TIJI TIBEH" Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh. Dia juga menciptakan konsep manajemen pemerintahan yang dikenal sebagai Tri Darma yaitu: 
  1. Mulat Sarira Hangrasa Wani, artinya berani mati dalam pertempuran dan     mau menerima anugerah hanya dengan cara yang wajar, kemudian harus berbagi bahagia dengan sesama. 
  2. Rumangsa Melu Handarbeni, artinya merasa ikut memiliki daerahnya sehingga rela berjuang, bekerja dan merawat daerahnya. 
  3. Wajib Melu Hangrungkebi, atinya wajib berjuang hingga tetes darah penghabisan demi tanah kelahirannya.

     KGPAA Mangkunegoro I membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi 5 daerah yang masing2 memiliki ciri khas atau karakteristik yang dipakai sbg metode dalam kepemimpinannya. 
  1. NGLAROH (Wonogiri bagian utara, meliputi Selogiri dan sekitarnya) Sifat rakyat daerah tsb adalah Bandol Ngrompol. Artinya kuat dari segi rohani dan jasmani, punya sifat bergerombol atau berkumpul. Positif dalam menggalang persatuan dan kesatuan. Jika bisa menguasai rakyat Nglaroh akan menjadi kekuatan dasar yang kuat untuk perjuangan. 
  2. SEMBUYAN (Wonogiri bagian selatan mengeliling dari Baturetno sampai Wuryantoro) Punya karakter sebagai Kutuk Kalung Kendho. Artinya penurut, mudah diperintah pimpinan atau bersifat paternalistik. 
  3. WIROKO (Bagian tenggara Wonogiri, Tirtomoyo dan sekitarnya) Berkarakter Kethek Saranggon. Artinya punya sifat mirip kera, suka bergerombol, sulit diatur dan mudah tersinggung. Harus bisa jaga jarak dengan mereka, tidak terlalu dekat namun juga tidak bisa dijauhi. 
  4. KEDUWANG (Wonogiri timur) Berkarakter Lemah Bang Gineblegan. Artinya seperti tanah liat yang bisa padat dan mudah dibentuk. Mereka suka berfoya2 dan sulit diatur. Namun bila pandai menepuk2 mereka bagai tanah liat, mereka mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat. 
  5. HONGGOBAYAN (Timur laut Wonogiri, hingga perbatasan Karanganyar) Berkarakter Asu Galak Ora Nyathek. Artinya sepintas jika dilihat dari tutur katanya terkesan keras dan kasar. Akan tetapi sebenarnya mereka baik hati dan mudah menjalankan perintah pimpinan.